Namlea – Radarnasionalnews.com –
Tali pusaka adat Petuanan Negeri Kayeli kini di ambang koyak! Keputusan Senono yang mendaulat Fandi Ashari Wael sebagai Raja Petuanan Kayeli memantik amarah besar dari lingkaran utama pemegang tongkat estafet tradisi leluhur.
Imam Petuanan Negeri Kayeli, Bapak Onyong Wael, melayangkan kecaman keras, menelanjangi habis-habisan drama politik identitas yang mencederai marwah adat sakral tersebut.
Dengan nada berapi-api, ia menegaskan bahwa klaim kepemimpinan Fandi Ashari Wael adalah lelucon murahan yang sama sekali tidak berdasar pada hukum adat yang sah.
“Sejak kapan Fandi Ashari Wael dikukuhkan sebagai Raja Petuanan Negeri Kayeli?! Raja Petuanan Negeri Kayeli itu tidak bisa dipilih dari rumah ke rumah atau dari tenda ke tenda!” tegas Onyong Wael tanpa kompromi saat diwawancarai, Sabtu (12/9/2026).
Kemarahan sang Imam Adat tersulut menyusul prosesi di Desa Wapsalit.
Kehadiran Fandi Wael yang dikawal sejumlah para pemangku adat dalam acara di Desa wapsalit tersebut dinilai disengaja dibumbui intrik busuk untuk mengecoh pandangan publik, seolah-olah Fandi Ashari Wael adalah penguasa takhta Kayeli yang sah.
Onyong Wael juga menghantam telak pernyataan Matatemun Yohanes Nurlatu yang sebelumnya sesumbar menyebut Fandi Ashari Wael sebagai satu-satunya Raja Petuanan Kayeli.
Ia menantang pihak-pihak tersebut untuk membuktikan di atas meja adat: kapan dan di mana prosesi penobatan itu dilakukan sesuai titah leluhur?
Tahta Sakral Bukan Mainan Jalanan”!!
Secara historis dan yuridis adat, takhta Petuanan Negeri Kayeli telah memiliki pemilik sah yang dikukuhkan secara mutlak pada tahun 2016 silam.
Penobatan tersebut bukan hasil bisik-bisik di balik selimut atau musyawarah kilat di pinggir jalan, melainkan mandat sakral yang direstui oleh seluruh pemangku adat dari dataran tinggi hingga dataran rendah.
“Raja Petuanan Negeri Kayeli yang sah adalah Bapak Abdullah Wael! Dikukuhkan di Desa Kayeli, adatnya dilaksanakan di Titar Pito, dilanjutkan ke Desa Waflan, Desa Kubalahin, hingga berpulang ke Negeri Kayeli untuk menetapkan beliau secara sah,” beber Onyong Wael dengan nada geram.
Ia menegaskan, pengangkatan seorang Raja adat menganut prinsip sakral: hanya diangkat satu kaki saja, bukan diulang-ulang bak dagangan obral.
“Fandi Ashari Wael mengaku sebagai raja berdasarkan hasil musyawarah dari mana?! Raja Petuanan Negeri Kayeli itu diatur di Desa Kayeli, bukan di jalan-jalan atau dari tenda ke tenda!
Raja bukan sesuatu yang bisa diatur sembarangan di luar dari Negeri Kayeli, dan tidak semua orang marga Wael bisa asal tunjuk berdasarkan mata rumah tanpa prosedur adat yang murni, serunya dengan nada tajam”!!
Khianat di Balik Jubah Adat: Ada Apa dengan Kaksodin Ali Wael?
Sorotan paling tajam dan menohok kini diarahkan kepada Kaksodin Ali Wael.
Sang Imam Adat Petuanan Negeri Kayeli membuka borok inkonsistensi yang dilakukan oleh Kaksodin Ali Wael sendiri, yang notabene merupakan salah satu aktor utama di balik layar pengukuhan Raja Abdullah Wael di masa lalu.
Dengan nada penuh tanda tanya besar, Onyong Wael membongkar bahwa Kaksodin Ali Wael dulunya berdiri di barisan paling depan bersama seluruh pemangku adat dataran tinggi dan rendah untuk mengesahkan Abdullah Wael sebagai pengganti sah raja-raja pendahulu yang telah berpulang ke Rahmatullah.
Lalu, apa yang mendasari kepiawaian berbalik arah ini?
“Lalu sebenarnya ada apa sampai Kaksodin Ali Wael kembali mendukung Fandi Ashari Wael sebagai Raja Petuanan Negeri Kayeli untuk menggantikan Raja yang sah, Abdullah Wael?
Ataukah Kaksodin Ali Wael sendiri yang ingin mempermainkan adat istiadat yang sudah dititiskan oleh leluhur?!” kecam Onyong Wael.
Keterlibatan langsung Kaksodin Ali Wael dalam membidani lahirnya kepemimpinan Abdullah Wael di masa lalu kini menjadi bumerang moral yang menghantam kredibilitasnya sendiri.
adat Petuanan Negeri Kayeli kini menuntut kejujuran, apakah para tokoh ini sedang memperjualbelikan warisan leluhur demi syahwat politik sesaat?
Peringatan keras telah digariskan dari pusat adat Negeri Kayeli”!!
Barangsiapa yang mencoba memutarbalikkan arah panah adat demi kepentingan segelintir kelompok, bersiaplah berhadapan langsung dengan kutukan leluhur dan perlawanan mutlak para penjaga kemurnian tradisi”!! (Tim)







