MEMBARA! IMAM ADAT PETUANAN NEGERI KAYELI”!! KULITI HABIS SYAHWAT POLITIK KELOMPOK LIBERAL: “JANGAN GAGAL PAHAM, JANGAN JUAL ADAT DEMI KEKUASAAN SESAAT”!!

oleh -20 Dilihat
oleh

Namlea – Radarnasionalnews.com –
Panggung adat Petuanan Negeri Kayeli mendadak bergetar hebat. Pernyataan keras, telak, dan tanpa kompromi dilayangkan langsung oleh Imam Adat Petuanan Negeri Kayeli, Bapak Oyong Wael. Dengan nada berapi-api yang menyayat nurani, ia membongkar dan menelanjangi segala bentuk konspirasi busuk serta intrik kotor yang berupaya merusak tatanan sakral warisan leluhur demi memuaskan syahwat politik dan kepentingan sesaat pihak-pihak tertentu.

Tidak ada kata diplomasi atau basa-basi. Bapak Oyong Wael dengan tegas memperingatkan siapa pun agar berhenti mempermainkan marwah adat demi syahwat kekuasaan yang terselubung.

“Jangan pernah menggiring adat ke kepentingan tersembunyi!” tegas Oyong Wael dengan suara menggelegar, menyasar para aktor politik di balik layar yang mencoba mendistorsi nilai-nilai sakral negeri.

Lebih lanjut, ia menyoroti manuver-manuver politik tingkat rendahan yang dilakukan di luar koridor adat yang sah. Menurutnya, prosesi dan penyelesaian masalah kepemimpinan adat tidak layak diperjualbelikan atau dibahas di tempat-tempat yang tidak beradab.

“Ingat, Raja Petuanan Negeri Kayeli diselesaikan di Kayeli! Bukan dipanggil dari rumah ke rumah, atau dari rumah ke tenda-tenda yang mewah!” tandasnya penuh geram, menohok telak pihak-pihak yang gemar melakukan lobi-lobi elit di luar tanah adat yang sah.

Kemarahan sang Imam Adat memuncak tatkala melihat gelagat ambisi pribadi yang menghalalkan segala cara untuk menduduki singgasana kepemimpinan. Ia dengan tajam menyindir pihak-pihak yang krisis legitimasi namun memaksakan diri tampil sebagai penguasa.

“Jangan ingin memaksakan diri menjadi raja dan menggunakan berbagai macam cara untuk kepentingan sesaat!” ujarnya dengan nada penuh penyesalan.
Di balik ketegasannya, tersirat kepedihan mendalam seorang penjaga tradisi melihat tanah leluhur diobok-obok oleh sandiwara politik murahan. Selaku Imam Adat, ia mengaku sangat menyesal dan sedih menyaksikan lakon-lakon politik yang berupaya membelokkan sejarah dan tatanan yang telah diwariskan turun-temurun.

“Kayeli adalah tempat pengukuhan Raja Petuanan Negeri Kayeli itu sudah turun-temurun,” tegasnya mengingatkan kembali akar sejarah yang tidak boleh digeser sejengkal pun oleh kepentingan pragmatis.

Peringatan paling mengerikan sekaligus menjadi kutukan moral dilontarkan Oyong Wael bagi siapa saja yang berani lancang mengubah tatanan adat demi ambisi pribadi. Dengan mengatasnamakan kutukan leluhur, ia menegaskan bahwa segala bentuk perubahan paksa yang mencederai tradisi hanya akan mendatangkan malapetaka bagi negeri.

“Kalau ada yang mau bikin perubahan semua itu, berarti perubahan akan membawa kesialan dan malapetaka. Leluhur sudah menetapkan semua itu. Jika ada yang mau merubahnya, semoga umurnya panjang dan selalu sehat!” pungkasnya dengan sindiran menohok yang sarat makna magis dan teguran batin tingkat tinggi.

Pernyataan keras ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi para petualang politik berkedok adat di bumi Bupolo. Negeri Kayeli bukanlah panggung sandiwara, dan adat bukanlah komoditas tawar-menawar kekuasaan”!! (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.