TAJAM! Raja Kaiely Hanya Satu: Keputusan Adat 2016 Harga Mati, Polemik Selesai!

oleh -805 Dilihat
oleh

Namlea – Radarnasionalnews.com –
Kabut dualisme yang sempat menyelimuti Petuanan Kaiely akhirnya tersingkap oleh cahaya kebenaran adat yang tak terbantahkan.

Di tengah riuh rendah klaim kepemimpinan di Kabupaten Buru, sebuah penegasan keras muncul ke permukaan: Raja Kaiely hanya satu, dan sosok itu adalah Abdullah Wael.

Polemik ini bukan sekadar berebut kursi, melainkan pertaruhan marwah tatanan leluhur yang telah berusia ratusan tahun.

Siapa pun yang mencoba mengusik keputusan adat, berarti sedang berhadapan dengan sakralitas sumpah para pendahulu.

Manuver Politik vs Marwah Adat
Goncangan bermula pada tahun 2022, ketika Kaksodin Wahidi secara sepihak memunculkan nama Fandi Ashari Wael dalam sebuah seremoni di Desa Wapsalit. Langkah ini memicu kegaduhan luar biasa. Pasalnya, saat itu Fandi masih berstatus PNS aktif dan menjabat sebagai Camat Teluk Kaiely.

Rangkap jabatan antara birokrasi negara dan pemimpin adat dinilai sebagai cacat etika yang fatal.

Berbanding terbalik dengan Abdullah Wael, yang justru memilih jalur ksatria dengan menanggalkan seragam TNI-AD miliknya melalui pensiun dini demi pengabdian total kepada rakyat adat tanpa terikat oleh jeratan instansi mana pun.

Ketukan Palu Imam Adat: “Tugas Saya Selesai!”Imam Adat Kaiely, Onyong Wael, memberikan pukulan telak bagi pihak-pihak yang mencoba memancing di air keruh. Dari kediamannya di Namlea, ia menegaskan bahwa secara spiritual dan kultural, suksesi telah usai.

“Saya telah menunjuk Abdullah sebagai Raja Petuanan Kaiely dan tidak ada penunjukan untuk kedua kalinya. Itu artinya, tugas saya sebagai Imam Adat telah selesai,” tegas Onyong Wael dengan nada dingin namun mengunci.
Jejak Ritual S’maket:

Legitimasi yang Tak Bisa Direkayasa Legitimasi Abdullah Wael tidak datang dari atas meja, melainkan dari tanah dan restu leluhur. Soa Senget Kutbesy, Mansuar Wael, membeberkan fakta sejarah yang terjadi sejak tahun 2016. Melalui ritual S’maket (komunikasi dengan leluhur) yang sakral, sinyal gaib mengarahkan para pemangku adat kepada Abdullah Wael.

Tak berhenti di situ, Abdullah telah menjalani safari adat Soar Pito Soar Pa, melewati tujuh pintu adat dari dataran tinggi hingga pesisir:
Kutbesy: Disambut oleh tokoh adat dan masyarakat.

Wapsalit: Bertemu Kaksodin Wahidi.Titar Pito: Melalui Soa Matlea Gewangit dan Slamat Behuku.Kubalihin: Diterima oleh Hinolong Baman.

Rangkaian panjang ini ditutup dengan doa syukuran di masjid yang dipimpin langsung oleh (Alm) Imam Adat M. Idris Wael. Sebuah prosesi yang tidak mungkin bisa diulang hanya untuk memuaskan syahwat kekuasaan pihak tertentu.

Keputusan Final Baileo Kubalihin
Titik nadir perdebatan ini sebenarnya sudah terkunci rapat sejak Rapat Adat Akbar 2016 di Baileo Kubalihin. Dalam forum tertinggi yang dihadiri oleh (Alm) Soa Amat Nurlatu dan Soa Amat Nacikit, telah keluar maklumat keras: Pengukuhan Raja hanya dilakukan sekali seumur hidup.

“Status Raja Kaiely yang sah adalah Abdullah Wael, bukan Fandi. Ini bukan soal suka atau tidak suka, ini soal hukum adat yang berlaku,” tutup Soa Mansuar dengan pernyataan setajam silet.
Dengan fakta-fakta sejarah dan spiritual ini, segala bentuk klaim di luar keputusan 2016 dianggap sebagai angin lalu yang tidak memiliki pijakan hukum adat.

Rakyat Kaiely kini diminta merapatkan barisan di bawah satu kepemimpinan yang sah: Raja Abdullah Wael. (Tim-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.