ANAK MUDA BERSUARA: URAT NADI EKONOMI BURU TERCEKIK, PEMDA MATI SURI!

oleh -242 Dilihat
oleh

Namlea – Radarnasionalnews.com –
Kabupaten Buru sedang tidak baik-baik saja. Di balik tenang pelabuhan dan riuh pasar, ada jeritan yang tertahan. Kebijakan pemotongan anggaran dari pusat ke daerah kini menjadi “belati” yang mematikan sirkulasi uang di Bumi Bupolo.

Dampaknya? Ekonomi staknan, daya beli lumpuh, dan Pemerintah Daerah seakan kehilangan naluri berpikir untuk menyelamatkan rakyatnya.

Pasar Namlea: Saksi Bisu Ambruknya Pendapatan Jangan tanya angka statistik di atas kertas, tanyalah pada keringat pedagang di Pasar Namlea. Tahun lalu, pendapatan Rp500.000 per hari adalah hal yang lumrah bagi pedagang sayur, ikan, hingga pakaian. Kini? Angka itu hanyalah kenangan manis.

Bukan hanya pedagang, aspal jalanan pun terasa makin panas bagi tukang ojek dan pengayuh becak. Dompet mereka kering karena tak ada uang yang berputar di tangan masyarakat. Saat anggaran dipangkas, daya beli masyarakat amblas.
Pemerintah Daerah Kehilangan Taji?

Kritik tajam melayang kepada Pemerintah Daerah. Di tengah krisis ini, publik menilai birokrasi seolah gagap dan kehilangan kreativitas untuk mendongkrak ekonomi lokal. Rakyat butuh solusi konkret, bukan sekadar alasan administratif soal “pemotongan anggaran pusat”.

Jika pemerintah daerah hanya bisa pasrah, lantas siapa yang akan menjadi nakhoda saat kapal ekonomi ini karam?

SURAT TERBUKA: GUNUNG BOTAK SEBAGAI KATUP PENYELAMAT
Menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, tuntutan rakyat kini mengarah pada satu titik: Gunung Botak.

Kami, atas nama suara anak muda dan masyarakat kecil, mendesak kepada:Bapak Presiden RI & Bapak Gubernur Maluku.Bapak Bupati Buru.Bapak Kapolda Maluku & Pangdam XVI/Pattimura.Bapak Kapolres Buru & Dandim 1506/Namlea.Beri Kami Kelonggaran! Di tengah buntu-nya arus ekonomi formal, Gunung Botak adalah satu-satunya urat nadi yang bisa memompa kembali darah ekonomi di Kabupaten Buru.

Kami memohon agar masyarakat diberikan kesempatan dan kelonggaran untuk bekerja di sana. Ini bukan soal melanggar aturan, tapi soal perut yang tidak bisa menunggu dan ibadah Ramadhan yang harus tetap berjalan dengan layak. Jangan biarkan rakyat merayakan lebaran di atas meja yang kosong dan kantong yang bolong.

“Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mendengar rintihan rakyatnya di pasar-pasar, bukan hanya duduk manis di balik meja birokrasi.”( Tim-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.